• Teknologi AI Diprediksi Menjadi Ancaman Bagi Manusia

    Jika Anda belum takut dengan kecerdasan buatan (AI), seorang ahli berpikir ada 50 persen kemungkinan teknologi itu akan memusnahkan umat manusia. Max Tegmark, fisikawan dan pakar AI di Massachusetts Institute of Technology, telah memberikan prediksi yang sangat mengkhawatirkan

  • MK Putuskan Pemilu 2024 Menggunakan Sistem Proporsional Terbuka

    Faktualita – Mahkamah Konstitusi (MK) menolak gugatan sistem sistem pemilu sehingga Pemilu 2024 akan dilaksanakan dengan sistem proporsional terbuka. "Menolak permohonan pemohon untuk seluruhnya," kata Ketua MK Anwar Usman

  • Usulan Pemekaran Subang Utara Resmi Disetujui

    Faktualita – Masyarakat yang saat ini tinggal di Subang bagian utara bisa bernafas lega. Pasalnya, Persetujuan Calon Daerah Persiapan Otonomi Baru (CDPOB) Subang baru saja ditandatangani oleh pihak DPRD Provinsi Jawa Barat serta Gubernur Jawa Barat

  • DPR Resmi Sahkan RUU Kesehatan Jadi UU

    DPR resmi mengesahkan Omnibus Law Rancangan Undang-Undang (RUU) .tentang Kesehatan menjadi Undang-undang (UU). Pengesahan itu diambil dalam Rapat Paripurna

  • Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Bahasa Asing

    Faktualita - SEAMEO QITEP in Language (SEAQIL) untuk ke sekian kalinya akan menyelenggarakan kegiatan Worskhop / Pelatihan bagi guru – guru bahasa asing yang tersebar di Asia Tenggara. Pelatihan tersebut akan dilaksanakan secara daring selama tiga bulan. Adapun tujuan dari kegiatan ini

Kesejahteraan Guru Honorer dan (Mimpi) Generasi Emas

 


Nelson Mandela pernah berkata, pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah wajah dunia. Melalui proses pendidikan, seseorang akan mampu menjadi manusia seutuhnya sehingga memiliki kecenderungan untuk memanusiakan lainnya. Demikian halnya dengan Kaisar Hirohito yang memandang guru sebagai ujung tombak kemajuan sebuah bangsa. Guru merupakan salah satu elemen penting yang sangat menentukan maju atau tidaknya sebuah bangsa. Semakin besar dukungan pemerintah kepada sosok guru, semakin besar pula peluang sebuah bangsa dalam melakukan lompatan – lompatan di berbagai bidang.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia ?  Diakui atau tidak, kondisi para guru di tanah air belum sepenuhnya menggembirakan. Adanya dikotomi antara guru PNS dan guru honorer menjadi salah satu hambatan bagi bangsa Indonesia untuk mengejar ketertinggalan dari bangsa – bangsa lainnya. Kenyataan menunjukkan, masalah kesejahteraan guru honorer menjadi pekerjaan rumah yang entah kapan dapat diselesaikan. Padahal, sebagaimana guru PNS, para guru honorer juga mengemban tugas dan tanggungjawab yang sangat berat dalam mendidik tunas – tunas bangsa. Sayangnya, ganjaran atau penghargaan yang mereka terima atas dedikasinya masih jauh dari harapan. Banyaknya guru honorer dengan penghasilan yang sangat rendah seharusnya menjadi perhatian pemerintah apabila kita benar – benar ingin menjadi bangsa yang maju dan sejahtera.

Di sisi lain, lahirnya generasi emas sebagaimana kita harapkan nampaknya kian jauh panggang dari api apabila melihat bagaimana cara pemerintah dalam mengelola kaum guru. Diluncurkannya program Pegawai Pemerintah Dengan Perjanjian Kerja atau PPPK sama sekali tidak menyelesaikan permasalahan sebagaimana mestinya. Alih – alih membantu guru honorer di sekolah negeri untuk meningkatkan kesejahteraannya, program tersebut  justru menimbulkan banyak permasalahan baru. Program yang pada awalnya diperuntukkan bagi guru honorer yang telah lama mengabdi di sekolah negeri, justru diperbolehkan diikuti oleh guru – guru sekolah swasta sehingga kesempatan guru honorer negeri untuk meningkatkan pendapatan mereka menjadi semakin kecil.

Kondisi ini diperparah dengan berubah – ubahnya aturan terkait rekrutment tenaga PPPK. Hingga saat ini, masih banyak guru yang sudah dinyatakan lolos seleksi namun belum jelas penempatannya. Tak sampai disitu, ketidakjelasan anggaran yang digunakan untuk menggaji tenaga PPPK ini pun menjadi permasalahan serius. Pemerintah pusat mengklaim bahwa anggaran untuk menggaji tenaga PPPK sudah disediakan oleh pusat dan ditransfer ke pemerintah daerah melalui Dana Alokasi Umum (DAU). Sementara pemerintah daerah merasa bahwa anggaran yang dikucurkan oleh pusat jauh dari nominal yang dibutuhkan sehingga mereka harus menambal kekurangannya. Padahal, kemampuan keuangan setiap daerah tidaklah sama. Alhasil, banyak daerah yang enggan untuk mengajukan formasi sesuai dengan kebutuhan karena khawatir tidak mampu membayarnya.

Mengingat pentingnya kehadiran guru honorer di sekolah serta tingginya dedikasi mereka dalam mendidik tunas – tunas bangsa, saya menghimbau kepada pemerintah untuk serius dalam meningkatkan kesejahteraan para guru honorer tanpa dibebani berbagai persyaratan yang memberatkan. Pemerintah hendaknya menjadikan pendidikan sebagai bidang prioritas dan menjadikan guru sebagai ujung tombak pembangunan bangsa. Berbagai proyek mercusuar yang menghabiskan anggaran sangat besar namun diragukan kebermanfaatannya sudah saatnya ditinjau ulang. Sudah saatnya pemerintah “kembali ke jalan yang benar” dengan memuliakan para guru honorer yang sangat besar jasanya bagi bangsa ini.

 

Share:

Mengasah Jiwa Wirausaha di Kalangan Generasi Muda

 


Indikator kedaulatan sebuah bangsa salah satunya terletak pada kekuatan ekonomi yang dimiliki oleh bangsa tersebut. Adapun tingkat kesejahteraan warga negara akan sangat menentukan kemampuan negara tersebut untuk bersaing dengan negara – negara lainnya. Sebaliknya, tingginya angka pengangguran yang ada di sebuah negara akan menjadi beban tersendiri bagi negara tersebut yang pada akhirnya akan menjadi masalah serius di kemudian hari. Masalah sosial serta kesehatan akan menjadi ganjalan serius bagi pemerintahan manapun sebagai akibat dari tingkat kesejahteraan warganya yang rendah. Lantas, bagaimana dengan potret bangsa Indonesia hari ini ?

Merujuk pada data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan februari 2023 lalu, ada sekitar 7,99 juta pengangguran di Indonesia. Angka sebenarnya tentunya jauh lebih banyak dibandingkan dengan data yang disuguhkan mengingat dalam beberapa bulan terakhir semakin banyak perusahaan yang melakukan PHK secara massal serta fenomena tumbangnya perusahaan – perusahaan start up. Hal ini tentu menjadi persoalan serius mengingat dalam kurun waktu yang tidak lama lagi Indonesia akan mengalami bonus demografi. Artinya, alih – alih menjadi kekuatan tersendiri, tingginya jumlah angkatan kerja yang tidak terserap itu justru berpotensi menjadi beban bagi negara.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, ada baiknya apabila pemerintah memperkuat sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang terebukti mampu menjadi andalan di saat krisis ekonomi terjadi. Dalam hal ini pemerintah hendaknya mampu melahirkan para wirausahawan baru yang mampu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat yang ada di sekitarnya. Kenyataan menunjukkan, tidak sedikit kalangan muda di tanah air yang mendulang sukses menjadi seorang wirausahawan di usia muda. Bahkan, tidak sedikit di antara mereka yang masih duduk di bangku sekolah. Hal ini membuktikan bahwa bangsa kita memiliki potensi yang luar biasa apabila dikelola dan didukung secara maksimal. Di samping itu penulis merasa yakin bahwa kalangan muda saat ini akan lebih baik dan lebih kuat dibandingkan dengan geenrasi lainnya karena mereka justru lahir di tengah krisis.

Adapun faktor permodalan serta keterampilan menjadi kendala utama yang dihadapi oleh generasi muda di tanah air. Mereka yang hendak memasuki bangku kuliah tidak sedikit terkendala biaya untuk membiayai kuliahnya. Demikian halnya mereka yang akan keluar dari bangku kuliah juga mengalami permasalahan belum tersedianya lapangan pekerjaan serta ketiadaan modal untuk memulai berwirausaha. Untuk itu ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk melahirkan para wirausahawan muda di tanah air.

Pertama, memberikan bekal berupa keterampilan secara berkesinambungan. Untuk terjun menjadi seorang pengusaha, setiap orang tentunya memerlukan bekal pengetahuan dan keterampilan yang memadai karena tidak sedikit dari mereka yang kebingungan harus mulai dari mana. Bekal tersebut tidak selalu harus diperoleh melalui bangku pendidikan formal, melainkan sarana – sarana lainnya. Kehadiran berbagai komunitas pengusaha dapat kita manfaatkan sebagai sarana untuk memberikan bekal yang dimaksud. Dalam hal ini pemerintah pusat maupun daerah dapat memberikan support kepada komunitas – komunitas yang ada untuk menggelar berbagai pelatihan. Di samping itu pesatnya perkembangan teknologi informasi membuat siapa pun dapat mengakses sumber belajar kapan saja dan dimana saja.

Kedua, selain memberikan bekal berupa keterampilan, kemudahan akses permodalan juga perlu diberikan kepada mereka yang telah menjalai serangkaian pelatihan. Hal ini sangat diperlukan untuk dapat memulai usaha. Dalam hal ini pemerintah dapat memberikan pinjaman lunak tanpa bunga dan tanpa agunan kepada para peserta yang memenuhi syarat. Dengan begitu, apa yang mereka dapatkan selama proses pelatihan pun benar – benar ada manfaatnya dan tidak terhalang oleh ketersediaan modal.

Ketiga, dukungan promosi atau pemasaran. Bantuan pemerintah pusat seta daerah dalam mempromosikan produk  - produk local sangatlah diperlukan agar unit – unit usaha baru yang dijalankan tersebut dapat berkembang. Dengan sarana yang dimilikinya, tidak sulit bagi pengambil kebijakan untuk melakukan promosi secara massif. Bahkan, dalam beberapa kondisi, pemerintah pusat dapat menginstruksikan kepada seluruh pemerintah daerah untuk menggunakan produk lokal dalam memenuhi kebutuhan operasionalnya.

Dengan adanya tiga upaya strategis tersebut, penulis merasa yakin bahwa semangat generasi muda untuk berwirausaha akan semakin meningkat. Pada akhirnya, hal ini pun akan berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan masyarakat yang juga akan naik secara signifikan.  

Penulis : Sholahuddin Al Ayyubi, Pegiat UMKM

 

Share:

Sekolah

Unordered List

Pages

Sample Text

Visitor

Flag Counter